Kami (BUKAN) penduduk negeri yang TANAH, AIR SERTA KEKAYAAN ALAM YANG TERKANDUNG DIDALAMNYA SEBESAR BESARNYA UNTUK KEMAKMURAN RAKYAT SERTA FAKIR MISKIN DAN ANAK TERLANTAR DIPELIHARA OLEH NEGARA, takkan kering oleh harap, dalam buku sejarah kami tercatat suatu sidang kabinet paripurna akbar,
Dari Partai Kepala Bangsat : “Atas nama rakyat negeri harga air kehidupan tidak boleh naik”, LALU HARGA BERAS MENINGGI. Dari partai Demit katanya :”Atas nama rakyat negeri, harga air kehidupan harus naik karena kalau tidak semua anak negeri akan mati”, LALU HARGA CABE IKUT MENINGGI. Dari partai Kemlinthi Sekali lantas berlantang bicara, katanya : “Kami jelas menolak kenaikan harga, ini suara bulat dari partai” tetapi jempol tangannya masih basah oleh tinta kesepakatan untuk menaikkan harga dengan penguasa, LALU HARGA TERASIPUN MENINGGI. Tak mau kalah dengan yang lain partai penyembah Pohonpun bicara :”Saya kasih jalan tengah, harga air kehidupan boleh naik kalau 15 sumur di sebrang sudah tak bisa ditimba”, DAN HARGA GARAMPUN IKUT MENINGGI. DAN KINI SEPIRING NASI SAMBALPUN TAK TERBELI bagi sebagian anak negeri.
……….
Di rumah, Lik Kliwon sambil nonton TV, berbisik kepada saya, bangsat-bangsat itu telah terkutuk, sehingga setiap bicaranya dikutuk, mari kita membuat partai sendiri, PARTAI DIAM, bila mereka bicara kita diam, karena semesta ini selayaknya seimbang. Bukankah buku suci mengajarkan terkadang Diam itu mengandung 7000 kebaikan, dan setiap kebaikannya mengandung 7000 kebaikan lagi. Persis seperti ketika kita menamam sebutir gabah yang akan menumbuh berbulir-bulir.
………..
Asal kau tahu, pak Lik mu ini pernah merasakan yang lebih jelek dari sekarang, bahkan nyawa kami tinggal sekerat, tapi didada kami masih ada harga diri, daging kami tak tumbuh dari harta korupsi.
Salam takjim pak lik
Sebetulnya seli ini sudah cukup lama aku beli, tetapi karena kalah pamor dengan MTB maka jadilah dia nongrong di pojokan garasi meski sesekali dipakai istri belanja (?) …ssst kisanak tak bisiki ya, napa belanjanya pakai tanda tanya, adalah karena senyatanya istri lebih banyak beli lauk jadi dari pada memasak…hahaha, tapi saya paham kok, juga anak2 karena memang dari subuh sampai magrib biasanya dianya gak brenti-brenti ada saja yang dikerjakan.. Nah karena akhir-akhir ini saya sering capek kalau ber MTB bersama dengan teman2 BT, maka seli beraksi kembali.
Sabtu pagi tadi, untuk mengobati kengen bersepeda, saya ber seli lagi, rutenya tentu yang datar-datar saja. Pagi tadi di perkampungan nelayan terus menyisir pantai ke pelabuhan gresik dan masuk-keluar lorong-lorong kampung sebelum kembali kerumah, yang penting target berolah raga minimal 30 menit, 5 kali seminggu tercapai ( untuk bersepeda bahkan bisa 2 jam pada hari libur sabtu-minggu ). Biar kisanak juga kepingin berseli, berikut saya bagi foto sang do’i

do’i didermaga kampung nelayan

didermaga kapal barang

didermaga angkutan penumpang ke pulau bawean

didermaga tongkang
_____________________________________________________________________________________
selamat hari Sabtu
selamat bersepeda, jangan lupa setelah sampai rumah shalat dhuha empat raka’at, karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, ” sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman,’ Hai anak keturunan Adam, ruku’lah engkau untuk-Ku empat raka’at pada awal siang maka Aku melindungimu di akhir siang’.” (diriwayatkan Ahmad, Abu Daud dan At-Tirmidzi), disadur dari Minhajul muslim, Abu Bakr Jabir Al-Jazairi.
Sebenarnya saya sudah capek setengah ’semaput’, kaki sudah berat untuk diajak berjalan, kalau semisal ada mesin ketik didalam hati barangkali sudah berlembar-lembar kertas tertulis ‘pisuhan’, atau kalau satu binatang mewakili satu ‘pisuhan’ kira2 binatang sak wonokromo sudah tak teriakkan semua….hahaha
Suasana liburan Januari kemaren, ketika kami sekeluarga bersama keluarga teman2 pabrik yang lain ditakdirkan bisa mengunjungi negeri sebrang (singapura) yang sak iprit itu (meski untuk itu seperti yang lalu-lalu kami harus menyisihkan upah kami untuk ditabung), itulah yang melahirkan suasana hati diatas.
Kenapanya adalah, setiap mau melihat jenis hiburan di ’studio’ itu, mungkin lebih tepat disebut atraksi kami harus jalan, kemudian antri, jalan lagi, natriiiiiiii, jalan, antriiiiiiiiiiiiiii, sampai-sampai saya mau muntah melihat banyaknya orang mengantri, terakhir kami dilihatkan atraksi dengan judul diatas itu.
Kisanak..,
yang namanya studio universal itu cuma pameran tegnologi, termasuk song of the sea !, di song of the sea area penonton dibuat seperti kalau kita nonton bola trus didepan sana ada kampung nelayan ‘epok-epokan’, sesaat acara dimulai beberapa penyanyi tampil dengan ‘menari’ ngawur, memvisualkan nyanyian ‘dubbing’, hahaha..ya..iyaalah mana mungkin suara mereka sampai di tempat penonton kalau gak dubbing, jadi mulutnya cuma mangap-mangap gitu.
Kerna penontonnya dari banyak bangsa (seingatku bulenya gak ada), biar mereka merasa memiliki dinyanyikanlah banyak bahasa, India, Inggris, melayu, yang melayu ini lagu caca marica (ini lagu kita gak ya ?), terus dikampung ‘epok-epokan’ tadi menarilah air muncrat dengan sorot laser yang warna-warni. Sesaat (seingatku) si India menyanyi muncullah gambar puteri amy di layar air muncrat di atas kampung ‘epok-epokan’ tadi seterusnya ceritanya gak penting amat…hahaha *praktis yang ditonton ya air muncrat dan sorot laser warna-warni itu*
Di-’uteq kampungan’ saya coba membandingkan dengan republik tercinta ini yang kabarnya mempunyai garis pantai sepanjang 95.181 km, terpanjang ke empat didunia, kalau tiap jengkalnya mampu menghisap sebegitu banyak wisatawan…wah.
Belum lagi kekayaan alam yang terkandung didalamanya yang katanya sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat, sehingga yu Blenduk gembuk bisa ngomong keanaknya begini : *nak mulai hari ini kamu gak usah ngamen dijalanan, hidup kita sdh ditanggung oleh negara ! $#@^&% ?? *
SONG OF THE SEA KITA seharusnya lebih ‘merdu dan nyaring’, bandingkan dengan pantai kita di Bali, Lombok, P. Karimun jawa (yang ini saya belum lihat, cuma lihat dari foto yg dibagi temen2 di jejaring ini), trus pantai prigi, Wonosari dan masih banyak lagi. pantai yang dipakai untuk atraksi song of the sea ini (lagi-lagi) cuma seiprit sepanjang 1 km-an mungkin.
Hal lain lagi yang meyebabkan negeri ini ‘berbeda’ adalah kebersihan kotanya. Di jln Orchad itu meski banyak rerimbunan pohon tak kulihat sehelai daunpun yang mengotori padahal tak terlihat tukang sapunya, atau mungkin tukang sapunya rapi-jali sehingga luput dari pengamatan saya, juga kalau kisanak perhatikan ketika kita kembali ke bandara by bus, sepanjang sisi kanan jalan sepanjang pantai itu penuh rerimbunan pohon dan bersih sehingga menjadi camping ground yang ciamik….rapi-jali.
Hal lainnya lagi adalah kesemprawutan lalin gak terlihat sama sekali, padahal kabarnya negeri ini negeri yang kepadatan penduduknya tinggi dan anehnya tak kulihat polisi yang mengatur lalin dengan ‘ngemut priwitan’, penjelasan saya dapat dari teman di sebelah katanya kerna penduduknya yang taat aturan, dan sangsi yang tegas…..hebat,
Tapi dibanding dengan negara yang se iprit tadi PDB per kapita kita jauh dibawahnya, 1 : 15 lebih, kok bisa ya !!! kisanak beri saya pencerahan.
KIsanak saya bisiki ya, kabarnya negeri ini sebagian dilebarkan dengan urugan pasir yang dibeli dari pasir kita, entah siapa yang menjualnya…hahahaha
ini sebagian kenangannya


ndeso !

rimbun tapi bersih

‘ndeso’ di sin flyer

unt masuk ke sini saya mau muntah *antriiiiiiiiiiiiiiiiiiii*

sayang camera pocket dan amatiran *di song of the sea*
____________________________________________________________________________
*kapan ya kita bisa seperti mereka, PDB tinggi, kota teratur, bersih, lalin gak macet, punya MRT*
mimpi ?
Gak…kita pasti bisa

Adalah dewi Kunti yang tak sabar menunggu takdir dalam membaca mantra ajaib pemberian resi Durwanta, maka tiba-tiba mak bedunduk dihadapannya telah terhidang laki-laki gagah bercahaya berpendaran, ganteng melebihi selebriti.
Dewa Surya, itu jawaban yang didapatnya ketika ditanya siapa, lalu disampaikannya keisengan membaca mantranya kepada sang lelaki itu.
” Sudah sana kembali kekahyangan aja, wong aku tadi cuma keceplosan baca mantra kok, lagian saya kan masih teenager, belum saatnya ihik..hik ”
” Enak aja, elo dah panggil-panggil, main usir aja..gak bisa “, kira2 si Kunti ini pakai axe, kayak iklan di tipi yang membuat bidadara lupa diri.
” Lantas apa dong maunya ?” selanjutnya saya ngeri mengetiknya, hahaha…..
*********
Lalu hamillah Dewi Kunti, tak seperti kebanyakan orang kehamilannya begitu cepat berkembang sehingga saat itu juga saatnya melahirkan, oleh selingkuhannya yang sakti itu bayinya dilahirkan lewat telinga, oleh karenanya sang jabang bayi cemerlang itu diberi nama Karna dalam bahasa sanskerta berarti telinga, dan Kunti masih tetap perawan suci.
**********
Kisanak fenomena kelahiran tidak lewat jalan yang semestinya itu sekarang jadi kenyataan, kemaren dulu saya bezuk saudara yang melahirkan lewat jalur alternatif ini, lebih simpel dan tidak sakit namanya cesar, seperti Dewi Kunti dahulu.
Sebetulnya yang menakutkan saya sekarang (mungkin tidak nanti dijamannya) adalah perkembangan ilmu. Saat sekarang ini sudah jamak mempertemukan sel telur dan sperma tidak pada semestinya, dan dinegara Barat sana katanya juga sudah ada yang hanya ingin hamil dan melahirkan, karena menganggap mempunyai suami cuma merepotkan, yang begini ini akan merepotkan nasapnya, karena ibunya menjadi 2, ibu telur dan ibu kandung, atau ibunya 1 tapi tak berayah…weleh..weleh.
satu lagi yang saya ’sekarang’, ngeri memikirkannya, yakni tidak menutup kemungkinan kebebasan berpikir orang menjadikan rekayasa genetika dengan mereka-reka mengawinkan mamooth dengan manusia misalnya, kebebasan berpikir juga bisa menyebabkan apapun yang mencoba memagari perkembangan ilmu adalah musuh, hatta agama sekalipun.
Mau saya sih, ilmu itu untuk merekayasa semangka tak berbiji atau, padi yang tahan hama, besar-besar, enak dan cepat panen, gitu kisanak !!!
aneh aneh
_____________________________________________________________
selamat hari minggu
ajah saja adalah pekerdja di seboeah pabrik goela di kota kami, beliaoe sekolah hanja sampai kelas 3 SR, itoe sebabnya beliaoe di pekerdjakan di bahagian keboen sadja ataoe orang menjeboet bahagian TANEMAN. Meski demikian setahoen sekali pabrik tempat beliaoe bekerdja mengadakan picnic, Waktoe itoe saja tidak pernah berpikir bahwa picnic itoe boetoeh biaja, jang ada hanja soeka, kerena besok naik bis picnic, biasanja emak malamnja memboeat arem-arem yakni nasi yang didalamnja di isi kering tempe kemoedian di tanak.
Liboeran kemaren, saja sekeloearga djoega maoenja liboeran, moempoeng anak-anak pada liboer, sekalian menengok neneknja anak2, Dengan mobil sendiri ( kondisi saja soedah barang tentoe lebih makmoer dibanding ajah jang hanja bahagian tanaman, istri saja joega soedah tidak perloe lagi bangoen malam oentoek memboeat arem-arem seperti emak dahoeloe), ini sadja memboetoehkan biaja.
Analisa saja ketika itoe bapak menjisihkan sebagian oeangnya, ditaboeng oentoek itoe, didalam boekoenja edy zaqius tentang ‘orang gadjian bisa kaya’, oentoek para kisanak seperti saja yang gadjian agar bisa picnic lajaknja pengoesaha, maksoednja picnic-nja bener2 re-freshing, (soedah) gak mikir biaja, tiket, makan, penginapan ataoe bajar oetang (jang ini lebih parah kalaoe picnic-nja pakai doewit dari ngoetang), maka perloe memenedjemeni gadji. Kalaoe di boekoenja si edy ini ada formoela yg diandjoerkannja jaitoe formoela 1234.
Koenci keberhasilannja menoeroet saja adalah istiqomah, adjek. Maksoed formoela ini, gadji moesti dialokasi berdasarkan 1, artinja 10 % oentoek amal ( kalaoe didalam agama 2,5 % ), 2 artinja 20 % oentoek hobi, rekreasi dan pengembangan diri, 3 artinja 30 % oentoek ditaboeng dan terakhir 4 artinja 40 % oentoek keboetoehan hidoep roetin.
Bagi saja angka tidaklah penting, jang paling penting adalah komitmen, seoempama alokasi oentoek rekreasi soedah habis ja djangan dipaksakan mengambil alokasi lainnja, rekreasinja ditoenda.
Masih didalam boekoe itoe, komentar orang jang soedah menjalankannja katanja berat, teroetama diawalnja. Saja sendiri tidak ( beloem ?) menjalankannja, namoen konsep membaginja dan menaboengnya soedah, bahkan karenanja bisa picnic bahkan keloear poelaoe bersama teman-teman pabrik.
Satoe lagi jang moengkin mampoe kita menedjemeni sehingga tak banjak boetoeh biaja adalah djenis kegiatan, berkemah misalnja, sehingga bisa mengoerangi biaja penginapan, keloearga kami soedah beberapa kali melakoekannja dari moelai coema 10 tenda sampai terbanjak 65 tenda, tentoe bersama sama dengan teman pabrik, pernah joega jang melakoekannja dengan tetangga RT, terserah komoenitasnja jang penting HAPPJ
T.E.M.P.A.T ?

tak boetoeh biaja nginap

biasanja camping grooend dipilih dekat air (bersih)
Kebetoelan tempat tinggal kami di Jawa Timoer, camping grooend jang pernah kami kemah didalamnja semisal daerah wisata pegoenoengan Pacet, Taman Dayoe, Coban Rondo, sekitar air terdjoen Dloendoeng, Trawas ataoe kalaoe maoe berkemah di pantai djoega tak kalah asjik-nja, kemaren saja lihat anak3 moeda jang berkemah ria di pantai selatan daerah Wonosari, selatan Jogja, joega nampak happj, njanji-njanji, tertawa-tawa sampai ngakak-ngakak…..
Nah kisanak jang soeka kepantai, di sekitaran Wonosari-Jogja, ternjata joega banjak pantai jang indah-indah, jang saja baroe tahoe liboeran kemaren. Oentoek kisanak jang poenja daerah ndak oesah marah, ketidak tahoean saja boekan karena gak sohornja daerah kisanak, tapi lebih kepada ke-koeper-an saja kok…hahaha.
Ini saja bagikan gambar jang bisa saja potret .

menggioerkan toek berendam

pasir (masih) bersih-nja

bersama pakdhe-boedhe nya
oh ja, pengalaman saja menaboeng pernah saja lakoekan, boetoeh waktoe sekitar 4 tahoen oentoek ke lombok dengan kapal moeloek…hahaha
Selamat menaboeng toek berpicnic
Mak, hari ini katanya hari ibu, bagi saya pasti yang dimaksud mereka adalah hari emak
Seperti yang lain, saya juga ingin emak punya hari istimewa.
Dalam bahasa air susu yang mengalirkan harapan2mu saat kau berkidung
Sungguh mak aku tahu itu. Meski sekarang tak kudengar lagi
Disaat semua orang memperingati hari ibu, saya jadi kangen.
Kalau boleh mengulangi, berkidunglah lagi mak, tapi berkidunglah agar anakmu ini menjadi sekedar BOCAH ANGON, YANG MAMPU MEMBERSIHKAN DAN MENAMBAL PAKAIAN (agamanya), UNTUK KELAK KEMBALI KEPADANYA
Mak, aku rindu kidung yang engkau dendangkan, katamu itu ajaran njeng sunan,
Lir ilir lir ilir tandure wus sumilir
Tak ijo royo royo
Tak sengguh temanten anyar 2x
Bocah angon cah angon penekno blimbing kuwi
Lunyu lunyu penekno
kanggo mbasuh dodotiro 2x
Dodotiro dodotiro kumintir bedah ing pinggir
Dondomono jrumatono
kanggo sebo mengko sore 2x
Mumpung padang rembulane
Mumpung jembar kalangane
Sun surako surak hiyo..
Kemaren tanggal 25 november ternyata hari guru, itupun saya tahu setelah membuka account FB saya, seperti kisanak yang lain kan ? ah ngaku saja ha..ha..ha
Bahwa kita sering atau bahkan terlalu sering melupakan sesuatu yang membuat kita ‘seperti hari‘ ini semisal orang tua, orang tua asuh, tetangga, dan lain lain orang yang sangat berjasa pada perjalanna hidup kita termasuk guru-guru kita, adalah hal biasa, sambil mengelus dada mari ucapkan astagfirullah ha..ha..ha.
………….
Untuk kisanak yang hidup dikampung atau setidaknya pernah hidup dikampung, pasti kisanak pernah merasakan kasih sayang dari para guru kita, kasih sayang yang sebenarnya karena keluar dari rasa pengabdiannya sebagai seorang guru kalau ada kisanak yang akan membagi pengalamannya dikota disilahkan.
………….
Kakak saya yang nomor satu, adalah guru SD di kampung kami, sekarang sudah pensiun, sepuluh tahun yang lalu, dia pernah bercerita, begini :
Cerita 1,
Ditempat dia mengajar, ada murid yang pandai matematika, oleh karenanya oleh dia dan sejawatnya di daftarkan untuk ikut olimpiade, kalau dulu namanya lomba. Pada tingkat kabupaten anak ini juara. Para gurunya pada gembira, namun tidak untuk sianak.
Besoknya ketika upacara diumumkan, bahwa SD kita berprestasi, si Anu jadi juara untuk ikut lomba matematika di Propinsi. Dikelas sudah pada ramai membicarakannya, namun sekali lagi tidak untuk si Anu yang pandai itu, dia cuma duduk, tak tergambar keriangan sedikitpun, bahkan matanya berkaca-kaca.
Besoknya lagi si anak ini menghadap kakak saya, gurunya
” Buk, saya ndak mau ikut ke propinsi ”
” Kenapa ? “, yang ditanya tak menjawab malah menangis
” Ya sudah, gak usah nangis “, bingung gurunya
Sorenya kakak saya mencari jawabnya, dari ayah si anak segalanya menjadi jelas.
” lha gimana Bu Guru, kemarin kambingnya nggak deberi makan seharian, saya marahi katanya disuruh ikut lomba sama Bu Guru”
” Iya Pak, mewakili sekolahan “.
Sepulang dari rumah muridnya itu, kakak saya mendatangi rumah sejawat-sejawatnya , dari sejawat-sejawatnya itu disepakati memberi uang untuk membeli rumput bagi bapaknya selama si Anu ini mengikuti lomba barang 2-3 hari.
Cerita 2.
Sudah beberapa hari ini seorang murid dari kakak saya gak masuk sekolah, tak ada ijin tak ada berita, dari mulut teman-temannya tak terdengar alasan kenapanya, oleh karenanya kakak saya mencoba mencari tahu dengan mendatangi rumahnya.
” Malu Buk, ndak punya rok “, jawabnya ketika ditanya kenapa
” Lho Rok yang kemaren kenapa ? ”
” Robek buk, kemaren saat mencari kayu bakar ”
Itu salah satu alasan ketika kami, keluarganya pulang kekampung saat lebaran, dimintanya untuk membawa pakaian bekas keponakan2nya ke dia, beberapa dari kami malah membelikannya baru ntuk mereka.
Kisanak, bagi saya GURU tetaplah pahlawan meski sekarang katanya sudah tak lagi TANPA TANDA JASA.
_______________________________________________________________
Bapak/Ibu Guru maafkan kami kalau sering melupakanmu
Tapi saya merasakan kalau ilmu yang bapak/ibu ajarkan mengalir lewat saya sebagai jariyah
SELAMAT HARI GURU
Mas NDUL, kalau kisanak ke desa Padangbandung, kec.Dukun, Kab Gresik kemudian kisanak bertanya , InsyaAllah hampir semua tahu he..he…di kampung, sepertinya semua orang paham, nama orang sekampung .
-
Satu hal yang masih saya ingat dengan ingatan saya yang pendek ini, ketika kami berbincang dan rerasan gombal tentang banyak hal di lebaran kemaren, khususnya kondisi kami, lebih khusus lagi beliau mas ndul yaitu hal program Pemerintah mengenai, istilah beliau mas ndul ‘ MENGHAPUS KEMISKINAN ‘ saya terbahak waktu itu, tapi beliau mas ndul serius…saya jadi malu.
-
Jelas beliau mas ndul, yang dimaksud menghapus kemiskinan itu tataran dilapangannya adalah dengan menaikkan BBM, TDL dan lainnya yang akan menurunkan daya beli masyarakat miskin, karena dengan kemampuan beli yang menjadi tidak mampu akhirnya secara alami akan membunuh masyarakat miskin dimaksud…ini tafsir beliau mas ndul, waktu itu saya terbahak…
-
Saya yakin, pasti bukan begitu program Pemerintah, tapi saya juga tidak menyalahkan beliau Mas Ndul, wong beliau adalah yang disasar program itu dan entah mengapa punya tafsir begitu.
-
Ah…saya tak paham.
Turun dari jamaah ashar saya mencari sandal jepit saya, ada yang menarik ketika itu, saya lihat sandal jepit selen, beda warna yang masih baru, warna hitam-putih mencolok, bertulis kiri-kanan…
Dikampung saya cuma orang gila yang berani memakai sandal begitu, selen, dulu. Sekarang, seperti temen yang pakai sandal jepit yang baru tadi serasa trendy, keren.
-
Menjelang lebaran kemarin saya mengantar anak ke pasar untuk membeli celana panjang, di toko saya melihat ada boneka pamer atau manequin yang di pakai-i jean yang bagian dengkulnya robek-robek, robek-robek sengaja wong baru kok, juga ditumpukan beberapa celana berwarna bladhus, bulak disengaja, kata pramu niaga ini yang model, keren, trendy…
35 tahun yang lalu, ketka saya SMP, saat celana saya sobek, emak mesti menjahit sobekan itu sebelum saya berangkat sekolah, kerna hanya orang gila yang berani berpakaian robek-robek…
-
Masih segar diingatan saya ketika salah satu tetangga, dulu karena kemiskinannya, mencuri kelapa, agar tak timbul suara gaduh kelapa hasil memetiknya di gendongnya disekujur tubuh, membebani, meski begitu nasibnya ‘ketahuan’, berhari-hari tak berani keluar rumah malu…
Saat ini saya dengar dan baca dibanyak media, para pejabat korupsi banyak ‘kelapa’, andai uangnya dibelikan kelapa yg dicuri tetangga, di bui dan keluar penjara masih dengan dada terbusung, diarak bagai pahlawan menuju istananya yang mewah…keren.
Dulu seperti tetangga, hanya orang gila yang tak punya malu…
-
Juga masih segar diingatan saya yang lain, saat ada tetangga kampung yang meninggal ngendhat, bunuh diri tersebab ketahuan ketika berselingkuh…malu
Sekarang saya baca dibanyak media…orang berselingkuh di filemkan sendiri, diedar di HP-HP…keren ?
Dulu seperti tetangga kampung yg lebih baik mati dari pada menanggung malu, karena hanya orang gila yang tak punya malu
-
Dulu, sekarang dan besok mungkin punya zaman tersendiri
bagi saya mesti dipandang gila, agama menjadi tongkat pemandu hidup meski digenggaman terasa bara.

Lebaran alias bakdo, identik dengan mudik, pulang kampung, sudah sering dibahas, si Suto menganggap negatif kerna mboros-mborosin bensin, kecelakaan dan nilai negatif2 lainya, berseberangan, si Noyo menganggap mudik itu positif, kerna ajang silaturahim ndedongo di pusaranya ortu atau sungkem, minta maaf kalau yang masih hidup.
Tetapi tetap saja saya seperti yang lain-lain pulang kampung…ha.ha.ha.
-
Kemaren saya berkunjung ke rumah bulik Lastri, Jandanya Paklik saya, adik emak yang no.6 saya lihat rumahnya suwung tapi kondisinya sudah lebih bagus, lantainya berkeramik dengan dinding gebyok yang sudah bersih berpelitur, namun gak seperti lebaran-lebaran lalu, kali ini ..ya itu tadi suwung.
Kabar selanjutnya, sepupu saya yang pemilik rumah ini, karena rumah telah diwariskan ke anak yg no.3, …kabarnya kembali ke Malaysia tak kerasan lama lama dikampung, entahlah padahal Dia sudah punya lapak di pasar kecamatan.
-
Dulu ketika saya masih kecil, ketika listrik belum masuk kampung, saya sering merasa takut kalau pas terjaga di malam pekat…nah rumah ini menjadi peredam, karena kalau didalamnya sudah terdengar Alu bertumbuk lesung ini berarti pagi hampir menjelang dan rasa takut saya tak perlu berlama-lama.
o.ya, bulik saya ketika itu masih jualan getuk, kalau saya ingat-ingat beliau bangun untuk ‘ndeplok’ /menumbuk ketela untuk jadi getuk sekitar jam 03.00 dini hari. Dari hasil getuk dan paklik yang bertani itulah rumah terbangun.
-
Tak berbeda dengan rumah itu, begitupun rumah ‘tinggalan’ bapak, hanya ramai kalau pas lebaran selebihnya hanya 1 kamar dekat dapur yang masih aktif, ruang lainnya seminggu sekali baru tersapu.
Ahhh….
Allahumagfirli waliwalidaiya warkhamhuma kamma robbayani soghiro, Ya Allah ampunilah kami, kedua orang tua kami dan kasihani mereka seperti mereka mengasihiku ketika kecil.
